--> < >

Dari Sahabat Jadi Cinta: Kisah Mia dan Ardi

    Dari Sahabat Jadi Cinta: Kisah Mia dan Ardi

    Dari Sahabat Jadi Cinta: Kisah Mia dan Ardi

    # Bab 1 — Awal Pertemuan yang Konyol

    Persahabatan itu kadang datang dengan cara yang aneh. Ada yang berawal dari tugas kelompok, ada yang karena sering ketemu di perpustakaan, dan ada juga seperti Mia dan Ardi—berawal dari segelas es teh jumbo.

    Hari itu kampus sedang ramai karena acara festival tahunan. Mahasiswa hilir mudik seperti semut kehilangan arah. Ada yang sibuk jualan makanan, ada yang wara-wiri cari kenalan baru, dan ada juga yang cuma numpang datang demi update Instagram story.

    Di tengah keramaian itu, Ardi sibuk memotret untuk dokumentasi acara. Kamera tergantung di leher, langkah cepat, dan fokus penuh mencari angle terbaik. Cowok itu terlalu serius sampai-sampai nyaris menabrak beberapa orang sejak tadi.

    “Di! Hati-hati woi!” teriak temannya dari jauh.
    Ardi cuma melambaikan tangan tanpa menoleh.
    “Iya, iya!”

    Sementara itu, Mia baru saja membeli es teh jumbo favoritnya di stand dekat pintu masuk. Gelas plastik besar itu hampir memenuhi tangannya sendiri.

    “Ini baru namanya kebahagiaan mahasiswa,” gumam Mia puas sebelum menyeruput es tehnya.

    Dengan santai ia berjalan melewati kerumunan sambil sesekali memainkan ponsel. Mia sedang membalas chat temannya yang cerewet soal tugas kelompok ketika takdir memutuskan untuk bercanda.
    Dan kemudian...

    **BRUK!**

    Ardi menabraknya tanpa sengaja.
    Segalanya seperti berjalan lambat.
    Kamera Ardi hampir jatuh.
    Es teh jumbo Mia melayang dramatis di udara.
    Dan satu detik kemudian—

    **BYUR!**

    Isi gelas itu tumpah tepat ke baju putih favorit Mia.
    Hening.
    Orang-orang di sekitar mereka otomatis menoleh.
    Mia membelalak tidak percaya.
    Matanya turun melihat noda cokelat besar di bajunya.

    “Ya ampun…” katanya pelan.
    Lalu beberapa detik kemudian—
    “YA AMPUN! BAJU AKU!”
    Ardi langsung panik setengah mati.
    “Maaf! Maaf banget! Aku nggak sengaja!”

    Cowok itu buru-buru mengambil tisu dari tas kameranya dan dengan refleks mencoba membersihkan baju Mia.

    “Eh jangan digosok! Malah makin nyebar!” protes Mia sambil menepis tangan Ardi.
    Ardi langsung mundur seperti anak kecil ketahuan nyontek.
    “Sorry… refleks.”
    Mia menatap bajunya dengan ekspresi ingin menangis.
    “Kamu tahu nggak ini baju favorit aku?!”
    “Kalau gitu… aku ganti rugi?” kata Ardi hati-hati.
    “Ganti rugi gimana? Emang kamu bisa ngilangin noda es teh pakai ilmu sihir?”

    Ardi terdiam.
    “…nggak sih.”
    “Ya kan!”

    Beberapa mahasiswa di sekitar mulai menahan tawa melihat ekspresi panik Ardi yang benar-benar seperti terdakwa kasus kriminal.

    Akhirnya Mia menghela napas panjang sambil memijat pelipis.
    “Udah deh. Aku mau ke toilet dulu.”
    “Tunggu!” kata Ardi cepat.
    Mia menoleh malas.
    “Apa lagi?”

    Ardi mengangkat gelas es teh yang masih tersisa sedikit di tangannya sendiri.
    “Mau… beli es teh baru?”
    Mia menatapnya datar selama beberapa detik.
    “Masalahnya bukan es tehnya, Mas. Tapi BAJU AKU!”
    Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Ardi, ia merasa segelas es teh bisa lebih menakutkan daripada dosen killer.
    ---
    Sejak kejadian memalukan itu, Ardi merasa bersalah setengah mati. Anehnya, rasa bersalah itu berubah menjadi kebiasaan aneh untuk terus mendekati Mia.
    Awalnya cuma ingin memastikan Mia tidak marah lagi.
    Tapi lama-lama… Ardi sendiri tidak tahu kenapa ia selalu mencari-cari alasan untuk bertemu cewek itu.
    Kadang dia muncul membawa es teh.
    Kadang membawa tisu.
    Kadang cuma datang untuk berkata,
    “Eh… bajunya udah bersih kan?”
    Mia yang awalnya kesal mulai merasa hidupnya seperti sedang diteror sales es teh.
    Suatu siang di kantin kampus, Ardi tiba-tiba muncul lalu duduk di depan Mia sambil meletakkan segelas es teh.
    “Ini buat kamu.”
    Mia langsung menghela napas panjang.
    “Ya Tuhan… lagi-lagi es teh?”
    “Aku bingung harus bawa apa.”
    “Kamu bisa bawa ketenangan.”

    Ardi tertawa kecil.
    “Berarti aku gagal total.”
    Mia sebenarnya ingin tetap kesal. Tapi entah kenapa, melihat ekspresi Ardi yang selalu canggung setiap berada di dekatnya malah terasa lucu.
    “Masih marah?” tanya Ardi hati-hati.
    Mia menyedot minumannya pelan sebelum menjawab,
    “Kalau aku bilang iya?”
    Ardi berpikir sebentar lalu mengangguk serius.
    “Berarti aku harus beliin es teh lagi besok.”
    Mia spontan tertawa kecil.
    Dan itu pertama kalinya Ardi melihat Mia tertawa tanpa nada kesal.
    Sejak saat itu, semuanya berubah perlahan.
    Ardi mulai sering menemani Mia makan di kantin.
    Mereka mulai saling ejek tanpa alasan.
    Dan tanpa sadar, kehadiran satu sama lain mulai terasa biasa.
    Bahkan ketika suatu hari Ardi tidak muncul di kampus, Mia beberapa kali melirik pintu kantin tanpa sadar.
    “Nyari siapa?” tanya temannya usil.
    Mia langsung salah tingkah.
    “Nggak nyari siapa-siapa!”

    Padahal jauh di dalam hati kecilnya, Mia mulai terbiasa menunggu cowok pembawa es teh itu datang sambil tersenyum canggung.

    # Bab 2 — Persahabatan Ala Tom dan Jerry

    Setelah insiden es teh jumbo itu, hubungan Mia dan Ardi berkembang menjadi sesuatu yang… aneh.
    Mereka bukan tipe sahabat yang saling memuji atau berbicara manis setiap hari. Justru sebaliknya, mereka lebih sering saling mengejek seperti musuh bebuyutan yang terjebak dalam hubungan persahabatan.
    Kalau ada lomba sahabat paling ribut se-kampus, kemungkinan besar mereka bakal menang telak.
    Anehnya lagi, meskipun hampir tiap hari berdebat, mereka tidak pernah benar-benar menjauh.
    Justru semakin sering bertengkar, semakin sering juga mereka bersama.
    ---
    Suatu pagi, Mia datang ke kampus dengan penampilan baru.
    Rambut panjangnya yang biasanya tergerai kini dipotong pendek sebahu. Beberapa temannya langsung heboh memuji.
    “Lucu banget rambut barumu!”
    “Kamu jadi kelihatan fresh!”
    Mia tersenyum puas sambil sesekali memainkan ujung rambutnya. Sampai akhirnya Ardi datang.
    Cowok itu berhenti beberapa langkah di depan Mia sambil menyipitkan mata seperti sedang mengamati sesuatu yang aneh.
    “Hm…”
    Mia langsung curiga.
    “Kenapa?”
    Ardi menunjuk rambut Mia.
    “Kamu kok jadi mirip anak SMP?”
    Hening dua detik.
    Lalu—
    “ARDDIIII!”
    PLAK!

    Sandal Mia melayang cepat ke arah kepala Ardi.
    “WOI! GILA YA?!” Ardi langsung menunduk menghindar sambil tertawa ngakak.
    “Daripada kamu!” balas Mia sewot. “Mahasiswa rasa bapak-bapak kos!”
    Teman-teman mereka langsung pecah tertawa melihat keduanya ribut di tengah koridor kampus.
    Ardi memungut sandal Mia lalu menyerahkannya sambil masih cengengesan.
    “Tapi serius, lucu kok.”
    “Basi.”
    “Beneran.”

    Mia mendengus lalu merebut sandalnya kembali. Namun diam-diam, pipinya sedikit memerah.
    Dan tentu saja Ardi terlalu bodoh untuk menyadarinya.
    ---
    Hari-hari mereka dipenuhi pertengkaran receh.
    Mereka bisa debat panjang cuma gara-gara hal sepele.
    Tentang film terbaik Marvel.
    Tentang mie instan kuah atau goreng.
    Bahkan tentang apakah nanas cocok di pizza atau tidak.
    “Pizza pakai nanas itu kejahatan,” kata Mia serius.
    “Lah enak tau!”
    “Kamu selera makannya aneh.”
    “Kamu yang terlalu banyak aturan.”
    “Minimal aku normal!”
    “Kalau normal nggak mungkin lempar sandal tiap minggu.”
    Mia langsung mengambil sedotan untuk dilempar.
    “Eh eh eh! Violence is not the answer!”
    “Tapi kepuasan!”

    Begitulah mereka.
    Ribut terus.
    Berisik terus.
    Tapi selalu mencari satu sama lain.
    ---
    Meski terlihat seperti Tom dan Jerry versi mahasiswa, sebenarnya mereka saling peduli lebih dari yang terlihat.
    Hanya saja… cara menunjukkannya agak berbeda.
    Suatu malam, Ardi tiba-tiba menghilang dari grup chat selama seharian.
    Padahal biasanya cowok itu paling cerewet.
    Mia awalnya cuek.
    Namun ketika malam tiba dan Ardi masih belum membalas pesan siapa pun, Mia mulai merasa aneh.
    Akhirnya ia memutuskan datang ke kosan Ardi.
    Dan benar saja.
    Cowok itu sedang demam tinggi sambil meringkuk di kasur dengan wajah kusut.
    “Buset, muka kamu kayak ayam tiren,” komentar Mia spontan.
    Ardi membuka mata pelan.
    “Kamu jauh-jauh datang cuma buat menghina orang sakit?”
    “Biar semangat hidup.”

    Meskipun mulutnya galak, Mia tetap masuk sambil membawa plastik berisi bubur ayam.
    “Ini buat kamu.”
    Ardi menyentuh bungkus buburnya lalu menghela napas panjang.
    “Mi… ini bubur apa es batu? Kok dingin?”
    Mia langsung melotot.
    “Ya salah sendiri sakit pas jam macet!”
    Ardi tertawa kecil meski suaranya lemas.
    Dan malam itu, Mia diam-diam membersihkan meja kos Ardi yang berantakan sambil terus mengomel.
    “Kamu tuh hidup kayak nggak punya ibu.”
    “Kan ada kamu.”

    Mia refleks berhenti bergerak.
    “Apaan sih?”
    “Galak tapi perhatian.”
    Mia langsung melempar tisu ke wajah Ardi.
    “Cepat makan sebelum aku pulang!”
    Namun diam-diam, senyum kecil muncul di wajahnya.
    ---
    Sebaliknya, Ardi juga selalu ada saat Mia sedang terpuruk.
    Termasuk ketika Mia patah hati untuk pertama kalinya.
    Cowok yang Mia sukai selama beberapa bulan ternyata malah jadian dengan cewek lain.
    Dan lebih parahnya lagi, Mia tahu kabar itu dari Instagram.
    Sore itu, Mia duduk sendirian di taman kampus sambil menatap layar ponselnya dengan mata sembab.
    Tak lama kemudian, Ardi datang sambil membawa kantong plastik minimarket.
    “Gue tahu lo pasti nangis,” katanya santai sambil duduk di sebelah Mia.
    Mia mendengus kecil.
    “Pede banget.”
    “Tapi bener kan?”
    “…iya.”

    Ardi mengeluarkan cokelat murah dari kantong plastik lalu menyodorkannya.
    “Nih.”
    Mia menatap cokelat itu lama.
    “Kamu serius menghibur orang pakai cokelat diskonan?”
    “Ya maaf, dompet mahasiswa.”
    Mia tertawa kecil di sela tangisnya.
    Dan entah kenapa, kehadiran Ardi membuat rasa sesak di dadanya perlahan menghilang.
    “Cowok kayak dia nggak cocok buat kamu,” kata Ardi tiba-tiba.
    “Kok bisa?”
    “Soalnya dia bikin kamu nangis.”

    Mia terdiam.
    Lalu Ardi melanjutkan dengan nada santai,
    “Lagipula… menurut gue, cowok yang cocok buat kamu harus tahan denger omelan kamu tiap hari.”
    Mia spontan memukul lengan Ardi.
    “Kurang ajar.”
    Ardi cuma tertawa.
    Dan sore itu, untuk pertama kalinya Mia sadar bahwa ada satu orang yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik, bahkan di hari terburuk sekalipun.
    Sayangnya, saat itu mereka masih terlalu bodoh untuk menyadari arti dari semua perhatian kecil itu.

    # Bab 3 — Tanda-Tanda Cinta Mulai Tumbuh

    Segalanya mulai berubah sejak komentar iseng dari Rina.
    Malam itu mereka sedang nongkrong di kafe dekat kampus. Tempat favorit anak-anak mahasiswa yang pengen kelihatan produktif padahal ujung-ujungnya cuma numpang WiFi dan pesan es kopi satu gelas untuk tiga jam.
    Seperti biasa, Mia dan Ardi duduk saling berhadapan sambil ribut soal hal tidak penting.
    “Film horor itu nggak seram,” kata Ardi santai sambil menyeruput kopi dinginnya.
    Mia langsung melotot.
    “Kamu ngomong gitu karena nontonnya siang-siang!”
    “Takut aja bilang.”
    “Enak aja! Kemarin siapa yang teriak pas ada jumpscare?”
    “Itu refleks laki-laki sejati.”
    “Laki-laki sejati dari mana?!”

    Rina yang duduk di samping mereka hanya menggeleng pelan sambil menyeruput latte-nya.
    “Kalian tuh kayak pasangan suami istri.”
    Hening.
    Suasana meja langsung membeku.
    Mia tersedak minumannya sendiri.
    “HUH?!”
    Sementara Ardi hampir menjatuhkan sendok kecil di tangannya.
    Rina menatap keduanya polos.
    “Lah iya. Berantem terus tapi nggak bisa jauh.”
    “Nggak lucu,”
    kata Mia cepat sambil pura-pura sibuk membuka ponsel.
    “Iya, Rin. Jangan ngarang,” tambah Ardi, meski telinganya mulai merah.
    Namun anehnya, sejak malam itu semuanya terasa berbeda.
    Kalimat sederhana dari Rina seperti masuk diam-diam ke kepala mereka lalu menetap di sana.
    Tidak bisa dihapus.
    Tidak bisa dianggap bercanda lagi.
    Dan yang paling menyebalkan… semakin dipikirkan, semakin terasa masuk akal.
    ---
    Malam harinya, Mia rebahan di kamar sambil memandangi langit-langit.
    Ponselnya berada di samping bantal.
    Biasanya jam segini Ardi pasti sudah mengirim chat random.
    Entah meme jelek.
    Entah video absurd TikTok.
    Atau sekadar pesan tidak penting seperti:
    *"Mi, menurut lo ayam kalau pakai jaket bakal kepanasan nggak?"*
    Tapi malam itu layar ponselnya tetap gelap.
    Mia mencoba cuek.
    Ia membuka media sosial.
    Menonton video.
    Mendengarkan musik.
    Namun lima menit kemudian tangannya otomatis mengambil ponsel lagi.
    Belum ada pesan.
    “Ngapain sih gue nungguin dia?” gumamnya kesal sambil membalik badan.
    Sepuluh menit kemudian ia mengecek lagi.
    Masih belum ada.
    Sekarang Mia mulai benar-benar kesal.
    “Yaudah sih nggak chat juga nggak penting.”
    Dua detik kemudian—
    **TING!**
    Layar ponselnya menyala.
    Dan jantung Mia langsung berdebar saat melihat nama Ardi muncul.
    **Ardi:**
    *Ketiduran tadi. Jangan marah ya cerewet.*
    Mia refleks tersenyum sendiri.
    Senyum kecil yang bahkan tidak ia sadari.
    Lalu beberapa detik kemudian ia langsung menutup wajah dengan bantal.
    “Ya ampun…” gumamnya malu sendiri.
    “Jangan-jangan gue beneran suka sama dia?”

    Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Mia, pertanyaan itu terdengar jauh lebih menakutkan dibanding tugas kuliah mana pun.
    ---
    Di sisi lain, Ardi juga mengalami kekacauan yang sama.
    Cowok itu mulai menyadari bahwa Mia tidak lagi terasa seperti “sekadar teman.”
    Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah penting baginya.
    Cara Mia tertawa sampai matanya menyipit.
    Cara Mia mengomel kalau lapar seperti ibu-ibu kehilangan minyak goreng subsidi.
    Cara Mia selalu menggigit sedotan minuman saat gugup.
    Dan yang paling parah…
    Ardi mulai merasa nyaman hanya dengan berada di dekat Mia.
    Sesederhana duduk berdua di kantin sambil ribut soal topping mie instan pun sudah cukup membuat harinya terasa menyenangkan.
    Suatu siang, Ardi bahkan tanpa sadar memperhatikan Mia terlalu lama.
    Cewek itu sedang fokus makan bakso sambil meniup kuah panas perlahan.
    Rambutnya diikat asal.
    Pipinya sedikit menggembung karena makanan penuh di mulut.
    Dan tanpa alasan jelas, Ardi malah tersenyum sendiri melihatnya.
    “Ngapain lihatin gue begitu?” tanya Mia curiga.
    Ardi langsung salah tingkah.
    “Hah? Nggak ngapa-ngapain.”
    “Serem banget tau.”
    “Yaudah nggak jadi liat.”

    Namun setelah Mia kembali sibuk makan, Ardi diam-diam kembali menatapnya.
    Dan untuk pertama kalinya, cowok itu sadar kalau satu hari tanpa bertemu Mia terasa aneh.
    Sepi.
    Kosong.
    Dan itu membuatnya takut.
    ---
    Beberapa minggu kemudian, mereka pergi menonton film bersama.
    Awalnya biasa saja.
    Mereka masih saling ejek seperti biasanya.
    “Kalau nanti kamu nangis pas filmnya sedih, aku ketawain,” kata Ardi sambil membeli popcorn ukuran besar.
    Mia langsung mendelik.
    “Pede banget aku bakal nangis.”
    “Terakhir nonton animasi aja kamu nangis.”
    “Itu karena anjingnya mati!”
    “Ya berarti cengeng.”
    “Diam!”

    Ardi tertawa puas lalu menyerahkan popcorn pada Mia.
    Bioskop malam itu cukup sepi.
    Mereka duduk berdampingan di barisan tengah.
    Awalnya semuanya normal.
    Sampai film mulai masuk ke adegan sedih.
    Dan benar saja…
    Mia mulai terisak pelan.
    Ardi melirik panik.
    “Eh… jangan nangis dong.”
    “Diam.”
    “Aku jadi ikut sedih.”
    “Diam!”

    Ardi buru-buru menyodorkan tisu sambil menahan senyum.
    Namun beberapa menit kemudian, tanpa sadar Mia menyandarkan kepalanya ke bahu Ardi.
    Dan dunia Ardi langsung berhenti.
    Tubuhnya menegang.
    Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut Mia bisa mendengarnya.
    Ia bisa mencium aroma sampo Mia yang lembut.
    Bisa merasakan hangat tubuh cewek itu di lengannya.
    Dan anehnya… rasanya nyaman sekali.
    Untuk beberapa detik Ardi bahkan lupa bernapas.
    Tangannya yang tadi memegang popcorn perlahan berhenti bergerak.
    Mia sendiri baru sadar beberapa saat kemudian.
    Namun bukannya menjauh, ia malah diam.
    Pipi cewek itu memerah samar dalam gelap bioskop.
    Sementara Ardi perlahan tersenyum kecil lalu membiarkan Mia tetap bersandar di sana.
    Dan sepanjang sisa film, tak satu pun dari mereka bergerak menjauh.
    ---
    Setelah malam itu, hubungan mereka berubah.
    Bukan berubah buruk.
    Hanya… berbeda.
    Mereka jadi lebih canggung.
    Kadang tiba-tiba saling diam saat tatapan mereka bertemu terlalu lama.
    Kadang salah tingkah hanya karena tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.
    Kadang jantung mereka berdebar hanya karena duduk terlalu dekat.
    Namun di saat yang sama, mereka juga jadi lebih hangat satu sama lain.
    Ardi mulai otomatis berjalan di sisi luar jalan untuk melindungi Mia dari kendaraan.
    Mia mulai membawakan makanan favorit Ardi tanpa diminta.
    Dan tanpa sadar, perhatian-perhatian kecil itu mulai terasa lebih dari sekadar persahabatan.
    Suatu sore saat mereka duduk di taman kampus, Mia menatap Ardi yang sedang tertawa karena video kucing di ponselnya.
    Lalu untuk sesaat, Mia berpikir—
    *"Kalau suatu hari nanti dia dekat sama cewek lain… kenapa gue nggak suka ngebayanginnya ya?"*
    Sementara di sisi lain, Ardi diam-diam berpikir—
    *"Kalau ternyata Mia jadian sama orang lain… apa gue bakal baik-baik aja?"*
    Dan dari situlah mereka mulai sadar.
    Bahwa hubungan ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar sahabat.
    ---

    # Bab 4 — Pengakuan yang Tidak Direncanakan

    Malam itu udara kampus terasa dingin.
    Langit gelap dipenuhi awan tipis sementara lampu taman menyala redup kekuningan. Daun-daun pohon bergerak pelan tertiup angin malam, menciptakan suara gesekan lembut yang membuat suasana terasa tenang.

    Mia dan Ardi duduk berdampingan di bangku taman favorit mereka sambil memakan gorengan dari kantin depan kampus.

    Tempat itu sudah seperti markas rahasia bagi mereka.
    Bangku tua dengan cat mulai mengelupas.
    Lampu taman yang kadang berkedip.
    Dan aroma gorengan bercampur kopi dari kantin kecil di ujung jalan.
    Semua terasa familiar.
    Seperti rumah.
    Seperti biasa, obrolan mereka dimulai dari hal-hal receh.
    Tentang tugas kuliah yang tidak ada habisnya.
    Tentang dosen killer yang hobi memberi revisi jam dua pagi.
    Dan tentu saja… tentang gorengan.

    “Ini bakwan apa kerupuk?” protes Ardi sambil mengangkat gorengan tipis di tangannya. “Kalau diterawang bisa kelihatan masa depan.”

    Mia tertawa kecil sambil menyender ke bangku.
    “Makanya jangan miskin.”
    “Kalau kaya aku nggak nongkrong di taman kampus.”
    “Terus di mana?”
    “Di Swiss.”
    “Ngapain?”
    “Pura-pura sibuk sambil minum kopi mahal.”
    “Halusinasi gratis ya?”
    “Mahasiswa kan modal mimpi.”

    Mereka tertawa bersama.
    Dan seperti biasanya, bersama Ardi selalu terasa mudah bagi Mia.
    Tidak perlu jaim.
    Tidak perlu berpura-pura manis.
    Namun perlahan, setelah tawa mereka mereda, suasana berubah menjadi lebih tenang.
    Angin malam bertiup pelan membuat Mia merapatkan jaketnya.
    Ardi diam-diam memperhatikan cewek di sampingnya itu.
    Rambut Mia bergerak pelan tertiup angin.
    Pipinya sedikit memerah karena udara dingin.
    Dan untuk sesaat, Ardi sadar kalau dirinya terlalu nyaman berada di sini.
    Terlalu nyaman bersama Mia.
    Beberapa detik berlalu dalam diam.

    Tidak canggung.
    Justru terasa hangat.
    Sampai akhirnya Mia membuka suara pelan.
    “Di…”
    “Hm?”

    Mia memainkan ujung lengan jaketnya gugup sebelum berkata,
    “Kamu pernah suka sama sahabat sendiri nggak?”

    Kalimat itu langsung membuat Ardi membeku.
    Tangannya berhenti di udara sebelum gorengan yang ingin ia makan masuk ke mulut.
    Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
    “Kenapa nanya gitu?” tanyanya hati-hati.
    Mia menunduk kecil.
    “Nggak tahu… cuma penasaran aja.”
    Padahal jelas-jelas wajahnya sudah merah.

    Dan Ardi tahu itu.
    Cowok itu menatap Mia cukup lama.
    Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardi merasa benar-benar takut.
    Takut kalau semua ini cuma perasaannya sendiri.
    Takut kalau setelah malam ini semuanya berubah jadi canggung.
    Takut kehilangan Mia.
    Namun di saat yang sama… ia juga lelah berpura-pura biasa saja.
    Lelah menyembunyikan rasa yang setiap hari semakin besar.
    Ardi menghela napas pelan.
    Lalu dengan suara nyaris berbisik, ia akhirnya berkata,

    “Aku suka sama kamu, Mi.”

    Dunia terasa diam sesaat.
    Mia langsung membeku.
    Matanya membesar pelan.
    Bahkan napasnya seperti tertahan.
    Ardi tertawa kecil karena gugup sambil menggaruk belakang lehernya.

    “Aku serius,” lanjutnya pelan. “Dan kalau kamu nggak suka balik juga nggak apa-apa kok. Kita masih bisa jadi—”

    “Bodoh.”
    “Hah?”

    Mia menatap Ardi sambil tertawa kecil, meski matanya terlihat gugup.

    “Aku juga suka sama kamu.”

    Untuk beberapa detik, Ardi benar-benar hanya diam.

    “Otak gue loading dulu bentar…”

    Mia langsung tertawa lebih keras.

    Ekspresi Ardi benar-benar seperti orang yang baru menang lotre tapi belum yakin tiketnya asli.

    “Serius, Mi?”
    “Iya serius.”
    “Beneran?”
    “Kalau nanya lagi aku pulang.”

    Ardi spontan tertawa lega sampai hampir menjatuhkan gorengannya sendiri.
    Rasa tegang yang sejak tadi memenuhi dadanya langsung hilang begitu saja.
    Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa bernapas dengan lega.
    Mereka saling menatap beberapa saat.
    Canggung.
    Tapi membahagiakan.
    Tatapan yang biasanya penuh ejekan kini terasa berbeda.

    Lebih lembut.
    Lebih lama.
    Lebih dalam.

    Lalu perlahan, tanpa banyak berpikir, Ardi menggenggam tangan Mia.
    Pelan.
    Hati-hati.
    Seolah takut cewek itu akan menarik tangannya pergi.
    Namun Mia tidak menjauh.

    Jemari mereka justru saling bertaut erat untuk pertama kalinya.
    Dan anehnya… terasa pas.
    Seolah tangan mereka memang sudah seharusnya seperti itu sejak lama.
    Mia menunduk malu sambil menggigit bibir kecil.
    Pipinya merah.

    Sementara Ardi tidak bisa berhenti tersenyum seperti orang bodoh.

    “Berarti sekarang kita pacaran?” tanyanya pelan.
    Mia melirik cepat.
    “Kayaknya iya.”
    “Wah gawat.”
    “Kenapa?”
    “Berarti aku harus tahan sama omelan kamu seumur hidup.”

    Mia langsung memukul lengan Ardi pelan.
    “Baru juga jadian udah nyebelin.”
    “Tapi kamu sayang.”

    Mia spontan salah tingkah.
    “DIH.”

    Ardi tertawa puas melihat reaksi Mia.
    Dan malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada lagi batas antara mereka sebagai “sekadar sahabat.”
    Tidak ada kembang api.
    Tidak ada hujan romantis seperti di film.
    Hanya ada dua mahasiswa, gorengan dingin, genggaman tangan hangat, dan perasaan yang akhirnya berhasil diucapkan.
    Namun justru karena sederhana itulah, malam itu terasa begitu sempurna bagi mereka.
    Karena kadang, cinta terbaik memang lahir dari tempat paling nyaman—persahabatan.

    # Bab 5 — Belajar Jadi Pacar

    Menjadi pasangan ternyata tidak membuat Mia dan Ardi berubah drastis.

    Mereka tetap berisik.
    Tetap saling mengejek.
    Tetap ribut soal hal-hal receh yang sebenarnya tidak penting.

    Bedanya sekarang, semua itu terasa lebih hangat.
    Lebih dekat.
    Dan jauh lebih membuat deg-degan.
    ---
    Hari pertama setelah resmi pacaran saja sudah penuh kekacauan.
    Pagi-pagi Ardi datang ke kampus sambil cengengesan lalu duduk di sebelah Mia di kantin.
    “Pacarku mana?” tanyanya santai.
    Mia langsung menendang kaki Ardi di bawah meja.
    “Jangan norak!”
    “Lah kan fakta.”
    Teman-teman mereka langsung heboh.
    “CIEEE!”
    “AKHIRNYA JADIAN JUGA!”

    Mia langsung menutupi wajah dengan tangan karena malu setengah mati.
    Sementara Ardi malah terlihat bangga seperti habis memenangkan kompetisi nasional.
    “Gue udah bilang dari dulu mereka tinggal nunggu tanggal jadian doang,” komentar Rina sambil tertawa.
    Mia melotot.
    “Semua salah lo.”
    “Loh kok gue?”

    Namun diam-diam, di balik rasa malu itu, Mia merasa bahagia.
    Sangat bahagia.
    ---

    Meski sudah pacaran, mereka tetap bertengkar hampir setiap hari.
    Tentang cara makan bakso.
    Tentang siapa yang paling lama balas chat.
    Tentang siapa yang harus traktir.
    Dan tentu saja… tentang kebiasaan absurd Ardi.

    “Kenapa sih kamu kalau tidur harus nelpon tapi ujung-ujungnya malah ngorok?” protes Mia suatu malam.

    “Biar kamu tahu aku masih hidup.”
    “Yang ada aku pengen matiin telepon.”
    “Tapi kamu kangen.”
    “Geer.”

    Namun beberapa detik kemudian, Mia tetap tidak menutup teleponnya.
    Karena diam-diam ia suka mendengar suara Ardi sebelum tidur.
    ---
    Suatu hari mereka pergi ke pantai bersama beberapa teman kampus.
    Awalnya semuanya berjalan normal.
    Mereka bermain air.
    Foto-foto.
    Saling melempar pasir.
    Dan tentu saja ribut lagi karena Ardi sengaja memercikkan air laut ke Mia.

    “ARDI!”
    “Hahaha! Pendek banget marahnya lucu.”
    “Aku dorong ke laut ya?”
    “Kalau tenggelam kamu janda.”
    “Belum nikah WOI!”

    Mereka tertawa sepanjang sore sampai langit mulai gelap.
    Namun saat perjalanan pulang, hujan turun begitu deras.
    Teman-teman mereka buru-buru pulang ke kos masing-masing, sementara Mia dan Ardi terjebak hujan di teras kos Ardi.
    Pakaian mereka basah kuyup.
    Rambut Mia menempel di pipinya sementara Ardi masih tertawa melihat kondisi mereka.

    “Ini semua gara-gara kamu!” omel Mia sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.
    “Lah kok aku?”
    “Kalau tadi nggak lama-lama foto di pantai kita nggak kehujanan!”
    “Tapi fotonya bagus.”
    “BODOH.”

    Ardi tertawa kecil lalu membuka pintu kosnya.

    “Masuk dulu aja.”

    Kamar kos Ardi tidak besar.
    Hanya ada kasur lantai, meja belajar berantakan, kipas angin tua, dan aroma kopi yang samar tertinggal di udara.
    Mia berdiri dekat pintu sambil mengusap rambutnya yang basah.
    Tubuhnya menggigil pelan.
    Melihat itu, Ardi langsung mengambil jaket hoodie miliknya lalu mendekat.

    “Nih pakai dulu.”

    Tanpa banyak bicara, cowok itu memakaikan jaketnya ke tubuh Mia.
    Jaket itu kebesaran di badan Mia.
    Hangat.
    Dan entah kenapa terasa nyaman.
    Saat Ardi sedang merapikan bagian lengan jaketnya, tatapan mereka bertemu.
    Untuk pertama kalinya, suasana terasa benar-benar sunyi.
    Tidak ada ejekan.
    Tidak ada candaan.
    Tidak ada tawa keras seperti biasanya.
    Hanya ada suara hujan di luar kamar.
    Dan detak jantung mereka yang sama-sama kacau.

    Ardi menatap Mia lama.
    Lebih lama dari biasanya.
    Seolah baru sadar bahwa cewek di depannya ini benar-benar miliknya sekarang.
    Sementara Mia mendadak gugup sendiri.
    Padahal ini Ardi.
    Cowok yang biasanya nyebelin.
    Cowok yang sering bikin emosi.
    Tapi malam itu, Ardi terlihat berbeda.

    Tatapannya lembut.
    Hangat.
    Membuat jantung Mia berdetak semakin cepat.
    Perlahan, Ardi mengangkat tangan lalu mengusap pelan rambut Mia yang masih basah.

    “Mi…”
    Mia menatapnya pelan.
    “Hm?”
    “Aku sayang banget sama kamu.”

    Kalimat itu terdengar sederhana.
    Namun entah kenapa, dada Mia langsung terasa penuh.

    Hangat.
    Nyaman.

    Dan sebelum Mia sempat menjawab, Ardi menarik tubuhnya perlahan ke dalam pelukan.
    Pelukan pertama mereka sebagai pasangan.

    Hangat.
    Lembut.
    Dan terasa seperti pulang.

    Mia bisa mendengar detak jantung Ardi yang begitu cepat di dadanya.
    Dan lucunya… detak jantungnya sendiri tidak kalah kacau.

    “Jantung kamu kenceng banget,” gumam Mia pelan.

    Ardi tertawa kecil di atas kepala Mia.

    “Ya salah kamu.”
    “Kenapa salah aku?”
    “Soalnya kamu cantik.”

    Mia langsung memukul dada Ardi pelan karena malu.

    “Gombal.”
    “Tapi bener.”

    Mereka tertawa kecil.
    Lalu perlahan, Ardi menunduk dan mengecup kening Mia dengan lembut.
    Sangat lembut.
    Seolah Mia adalah sesuatu yang paling berharga di dunia.
    Mata Mia perlahan terpejam.

    Dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
    Tidak ada tugas kuliah.
    Tidak ada drama kampus.
    Tidak ada keributan kecil mereka.

    Yang ada hanya mereka berdua.
    Dan rasa nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
    Mia tersenyum kecil lalu membalas memeluk Ardi lebih erat.
    Sementara di luar, hujan masih turun membasahi malam.

    Dan malam itu, di bawah lampu kamar kos yang redup serta suara hujan yang tenang, mereka menyadari satu hal:
    Kadang cinta terbaik memang datang dari seseorang yang sudah lebih dulu menjadi rumah.
    ---

    # Penutup

    Kisah Mia dan Ardi mungkin tidak sempurna.

    Mereka sering bertengkar.
    Saling mengejek.
    Saling membuat kesal.

    Kadang ribut cuma gara-gara bakso.
    Kadang marahan karena balas chat lama.
    Kadang saling ngambek seperti anak kecil.
    Namun justru di situlah letak cinta mereka.

    Karena cinta bukan tentang mencari seseorang yang sempurna.
    Melainkan menemukan seseorang yang tetap tinggal meski sudah melihat semua sisi burukmu.
    Seseorang yang tetap memilihmu bahkan setelah tahu betapa cerewet, keras kepala, dan menyebalkannya dirimu.

    Dan Mia sadar…
    Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain bersama Ardi.
    Cowok yang dulu menumpahkan es teh ke baju favoritnya.
    Cowok yang selalu datang membawa tisu dan alasan random.
    Cowok yang kini berhasil menjadi rumah paling hangat di hidupnya.

    Bahkan jika itu berarti Mia harus mendengarkan ocehan soal bakso dan teori aneh tentang pizza nanas seumur hidupnya.
    LihatTutupKomentar