--> < >

Hujan, Kamu, dan Satu Kasur

    Hujan, Kamu, dan Satu Kasur

    # Hujan, Kamu, dan Satu Kasur

    *Cerpen Romantis*
    ---
    Hari itu hujan turun kayak nggak punya aturan.
    Raka baru aja mesen kopi keduanya waktu langit di luar kafe tiba-tiba gelap mendadak, terus air mulai jatuh deras banget — bukan rintik-rintik romantis kayak di film Korea, tapi hujan yang bener-bener kayak langit lagi marah sama bumi.
    Dia tatap cangkirnya.
    Terus tatap pintu.
    Terus tatap cangkirnya lagi.
    Dia nggak bawa payung.
    Ya, tentu aja nggak. Dia nggak pernah bawa payung. Ibunya udah berkali-kali naro payung kecil di tasnya sejak SMA, tapi entah gimana payung itu selalu ilang sebelum sempet kepake. Ketinggalan di motor, lupa di kantor, atau emang menguap sendiri kayak uang jajan akhir bulan.
    Raka narik napas panjang, buka laptop. Dia ada deadline artikel jam lima sore. Sekarang baru setengah tiga. Hujan boleh lah turun sesukanya — dia nggak kemana-mana.
    ---
    Cewek itu masuk sambil ngeruketin ujung rambutnya.
    Raka nggak langsung ngeh. Dia lagi nulis, kalimatnya lagi ngalir enak, dan dia nggak mau ganggu momen langka itu. Tapi kursi depannya ditarik, dan ada suara yang dia nggak kenal bilang:
    "Maaf, semua meja penuh. Boleh duduk sini?"
    Dia dongakin kepala.
    Cewek itu basah kuyup parah. Blazer abu-abunya nempel di bahu kayak plastik kresek kehujanan. Rambutnya yang sebahu udah jadi satu gumpalan gelap yang masih netes-netes ke lantai. Tapi ekspresinya? Tenang aja. Sedikit malu, senyum tipis, kayak udah siap kalo ditolak.
    "Silakan," kata Raka.
    Cewek itu duduk, ngeluarin tisu dari saku, ngelap muka. Sia-sia sih, soalnya rambutnya masih menetesi pipi dua detik kemudian.
    "Hujannya tiba-tiba banget," katanya, lebih ke diri sendiri.
    "Iya," jawab Raka, terus balik nulis.
    Sepuluh menit pertama mereka diem aja. Raka nulis, si cewek pesen teh anget dan buka buku. Hujan makin deras di luar. Kafe makin rame sama orang-orang yang nggak bisa pulang.
    Raka selesai satu paragraf. Dia regangkin leher, nggak sengaja ngelirik ke depan.
    Si cewek lagi baca sambil gigit ujung jarinya — bukan kuku, cuma ujung jari, kebiasaan orang yang lagi mikir keras. Bukunya tipis, cover putih, gambar pohon gundul di tengah.
    "Itu bagus," kata Raka sebelum otaknya sempet sensor mulutnya.
    Si cewek ngangkat kepala. "Hmm?"
    "Bukunya." Raka nunjuk pake dagu. "Aku baca itu tahun lalu. Bagian ketiganya bikin nggak bisa tidur."
    Si cewek lirik covernya, terus senyum — bukan senyum siap-ditolak, tapi senyum yang lebih beneran. "Aku baru sampai bagian dua. Jangan spoiler ya."
    "Nggak akan." Raka balik ke laptopnya. "Tapi siapin tisu."
    Hening lagi. Tapi sekarang heningnya beda — lebih enteng, kayak hening antara dua orang yang udah tau mereka nggak terlalu asing satu sama lain.
    ---
    Namanya Nara.
    Raka tau itu dua puluh menit kemudian waktu pelayan salah nganter pesanan dan nyebut nama di struk. Nara dengan sopan ngasih tau dia pesen teh bukan cappuccino, pelayan minta maaf dan cabut.
    "Nara," ulang Raka tanpa sadar.
    Baru sadar dia ngomongnya keras waktu cewek di depannya natap dengan satu alis keangkat.
    "Eh, maaf—" kata Raka cepet.
    "Nggak apa." Nara tutup bukunya. "Namaku emang aneh."
    "Nggak aneh. Pendek. Gampang diinget."
    "Tau artinya?"
    Raka geleng.
    "Cahaya," kata Nara. "Kata ibuku sih dari Sansekerta." Dia senyum dikit. "Padahal aku takut gelap sampe umur dua belas tahun."
    Raka ketawa — ketawa beneran, bukan ketawa basa-basi. "Ironis banget."
    "Banget." Nara angguk serius. "Kamu siapa?"
    "Raka."
    "Artinya?"
    "Bulan purnama. Juga Sansekerta katanya." Dia angkat bahu. "Tapi aku nggak romantis sama sekali jadi entah cocok apa nggak."
    Nara ketawa kecil. Suaranya pelan, kayak orang yang udah lama belajar nggak terlalu berisik di tempat umum.
    Di luar, hujan masih deras nggak niat berhenti.
    ---
    Mereka ngobrol sampe deadline Raka kelewat dua puluh menit.
    Dia baru nyadar waktu hpnya getar — pesan dari editor yang pake tiga tanda tanya di akhir kalimat. Raka ngetik minta maaf, janji kirim sejam lagi, terus balik ke laptopnya dengan rasa bersalah yang sebenernya nggak terlalu dia rasain.
    "Kamu kerja apa?" tanya Nara, yang ternyata juga baru sadar mereka udah ngobrol lebih dari satu jam.
    "Nulis. Artikel mostly. Kadang esai." Raka tutup tab yang nggak perlu. "Kamu?"
    "Arsitek. Tapi lagi jeda antara dua proyek jadi punya waktu luang yang nggak tau mau diapain." Dia ketuk cover bukunya. "Makanya baca."
    "Dan kehujanan."
    "Dan kehujanan," ulangnya dengan nada pasrah yang lucu.
    Raka tatap layarnya. Artikel itu nggak bakal nulis sendiri. Tapi ada sesuatu yang dia nggak mau selesaiin — obrolan ini, atau mungkin hujan ini, atau mungkin dua-duanya.
    ---
    Jam tujuh kurang, hujan akhirnya turun jadi gerimis.
    Raka udah ngirim artikelnya — telat, tapi kelar. Nara udah nutup bukunya di halaman terakhir bagian dua dan duduk dengan ekspresi orang yang baru dapet bad news tapi belum yakin separah apa.
    "Bagian tiga?" tanya Raka.
    "Besok." Nara masukin buku ke tasnya. "Aku belum siap malem ini."
    "Bijak."
    Mereka beresin meja masing-masing pelan-pelan, kayak nggak sadar keduanya nggak buru-buru. Raka tutup laptop. Nara kencingin blazernya yang udah hampir kering walau masih kusut.
    Di depan pintu kafe, mereka berdiri bareng natap gerimis yang tersisa.
    "Bawa payung?" tanya Nara.
    "Nggak pernah."
    "Aku juga." Dia keluarin dompetnya. "Mau patungan ojek online?"
    Raka hampir bilang iya. Tapi dia liat langit — gerimis tipis, nggak ada angin, langit mulai terang di ujungnya — dan bilang, "Atau jalan aja? Gerimisnya udah mau berhenti."
    Nara tatap dia dengan ekspresi susah dibaca. "Kamu tinggal di mana?"
    "Jalan Pattimura. Lima menit dari sini."
    "Aku di Jalan Veteran." Nara mikir bentar. "Tujuh menit."
    "Searah."
    "Lumayan searah."
    Mereka jalan keluar bareng.
    ---
    Tujuh menit itu jadi lima belas.
    Bukan nyasar, tapi di tengah jalan Nara nunjuk gerobak martabak pinggir jalan, dan Raka bilang dia belum makan dari siang, dan Nara bilang dia juga belum, dan tiba-tiba mereka berdiri nungguin martabak dengan uap yang ngepul di antara muka mereka.
    Gerimis udah berhenti. Langit ungu tua di barat, bekas matahari yang udah lama turun.
    "Ini pertama kalinya aku makan martabak sama orang yang baru aku kenal tiga jam lalu," kata Nara.
    "Gimana rasanya?"
    Dia mikir bentar. "Normal. Itu yang anehnya."
    Raka senyum ke arah gerobak. "Kamu tipe yang gampang nyaman sama orang baru?"
    "Nggak." Nara ambil martabaknya. "Biasanya nggak."
    Mereka makan sambil jalan. Nara cerita soal proyek terakhirnya — rumah kecil di pinggir kota yang pemiliknya minta jendela di semua sisi biar bisa liat sunrise dari kamar dan sunset dari dapur. *Nggak praktis tapi indah*, katanya. Raka cerita soal artikel yang baru dia selesaiin — tentang pelukis tua di Jogja yang ngabisin dua puluh tahun melukis gambar yang sama, diulang terus, karena ngerasa belum pernah berhasil nangkep yang sebenernya mau dia lukis.
    "Akhirnya berhasil?" tanya Nara.
    "Katanya udah. Tapi lukisan ke dua ratus tiga puluh tujuhnya nggak beda-beda amat di mataku."
    Nara ketawa. "Mungkin bedanya ada di matanya sendiri."
    "Mungkin."
    ---
    Di persimpangan, mereka berhenti.
    Ke kiri, Jalan Pattimura. Ke kanan, Jalan Veteran. Lampu jalan oranye di atas kepala, mantul di genangan air di aspal.
    "Makasih ya udah nemenin," kata Nara. "Di kafe tadi maksudnya."
    "Kamu yang nemenin. Aku yang minta."
    "Kamu nggak minta apa-apa."
    "Tapi kamu duduk."
    Nara tatap dia dengan ekspresi yang lagi-lagi susah dibaca — tapi kali ini Raka ngerasa dia mulai belajar bahasa muka itu. Ada sesuatu di sana yang hangat, hati-hati, dan sedikit nggak percaya sama diri sendiri.
    "Aku biasanya nggak duduk di meja orang asing," katanya akhirnya.
    "Aku tau."
    "Tapi tadi aku duduk."
    "Aku tau."
    Diem sebentar. Angin lewat, bawa bau tanah basah dan asap martabak dari kejauhan.
    "Kalo hujan lagi besok," kata Raka, "dan kamu nggak bawa payung—"
    "Aku nggak bakal pernah bawa payung."
    "—aku ada di kafe yang sama. Jam dua siang."
    Nara tatap persimpangan. Tatap langit. Tatap Raka.
    "Kamu nggak tau aku bakal lewat sana."
    "Nggak." Raka angkat bahu. "Tapi hujan di kota ini nggak bisa diprediksi. Dan kamu bilang kamu lagi banyak waktu luang."
    Sudut bibir Nara gerak — bukan senyum penuh, tapi cukup.
    "Sampai jumpa, Raka."
    "Sampai jumpa, Nara."
    Dia jalan ke kanan. Raka jalan ke kiri. Nggak ada yang noleh — atau setidaknya, nggak di waktu yang sama.
    ---
    Tiga bulan kemudian.
    Hujan yang sama. Kafe yang sama.
    Bedanya, sekarang mereka pulang ke arah yang sama.
    ---
    Apartemen Raka di lantai delapan, dan dari jendelanya kalau malam kelihatan lampu-lampu kota yang berpencar kayak bintang yang jatuh ke bawah. Nara suka duduk di pinggir jendela itu sambil bawa teh, diem, natap.
    "Kamu kayak pemilik rumah yang minta jendela di semua sisi," kata Raka suatu malam dari balik meja kerjanya.
    Nara noleh. "Hm?"
    "Nggak praktis tapi indah."
    Nara diem bentar. Terus dia lempar bantal kecil ke arah Raka.
    "Sok puitis."
    "Aku penulis. Itu kerjaan aku."
    "Kerjaan kamu itu nulis artikel soal kebijakan publik."
    "Dan sesekali puisi buat orang yang suka duduk di jendela."
    Nara nyengir — senyum yang udah Raka hafalin dengan sangat baik selama tiga bulan ini. Senyum yang artinya dia mau ketawa tapi nggak mau ngasih tau.
    Malam itu hujan lagi. Tapi kali ini mereka nggak khawatir soal payung atau ojek atau siapa yang pulang ke mana.
    ---
    Dan inilah adegan yang kalian tunggu-tunggu.
    Bukan karena mereka baru — tiga bulan itu bukan waktu yang singkat. Bukan juga karena dramatis — nggak ada musik latar, nggak ada lilin, bahkan lampunya yang di pojok kamar itu redup karena bolanya emang lagi minta diganti dan Raka belum sempet beli.
    Tapi ada malem-malem tertentu yang rasanya beda.
    Nara lagi baca di kasur — udah di buku yang entah keberapa, kebiasaan gigit ujung jarinya masih ada — waktu Raka dateng dan tiduran di sebelahnya dengan posisi wajah nemplok ke bantal.
    "Cape?" tanya Nara tanpa ngangkat kepala dari buku.
    "Dikit."
    "Makan belum?"
    "Udah."
    "Bohong."
    "...Belum."
    Nara tutup bukunya, noleh ke Raka yang lagi nengkureb dengan wajah separuh ketelen bantal. Dia ketawa pelan.
    "Mau dibuatin apa?"
    Raka nongolin satu mata dari balik bantal. "Nggak usah. Kamu lagi baca."
    "Bisa dilanjut."
    "Nara."
    "Raka."
    Mereka tatap-tatapan. Luar lagi hujan, suaranya itu-itu aja — familiar, kayak backsound yang udah jadi bagian dari rutinitas.
    Raka gerakin tangannya, nyentuh pipi Nara dengan punggung jari — pelan, kayak orang yang masih nggak percaya hal-hal baik bisa bertahan lama.
    "Makasih udah duduk di mejaku waktu itu," katanya.
    Nara nahan senyum. "Semua meja emang penuh."
    "Bohong."
    Nara diem bentar.
    "...Ada satu meja kosong di pojok."
    Raka ketawa — tawa yang Nara juga udah hafalin dengan sangat baik. Tawa yang artinya dia seneng tapi nggak mau keliatan terlalu seneng.
    Nara turunin bukunya ke lantai.
    Raka noleh. Mata mereka ketemu — dan ada sesuatu di sana yang udah lama nggak perlu diucapin lagi.
    Nara yang gerak duluan. Tangan dia nangkup pipi Raka, dan waktu mereka ciuman itu bukan ciuman basa-basi — dalam, pelan, kayak orang yang udah lama nahan dan akhirnya nyerah.
    Lampu pojok yang redup nggak sempet dimatiin.
    Baju-baju yang jatuh ke lantai juga nggak sempet dirapihin.
    Yang ada cuma tangan Raka yang nyusur punggung Nara pelan-pelan, dan suara Nara yang pelan — nyaris bisik — manggil namanya di telinga. Yang ada cuma selimut yang berantakan, nafas yang makin nggak beraturan, dan dua orang yang udah lama tau ini bakal terjadi tapi sama-sama pura-pura nggak tau.
    Hujan di luar makin deras, kayak nggak mau kalah berisik.
    Tapi di dalam — di antara lampu redup dan selimut yang udah nggak jelas posisinya — yang ada cuma kehangatan.
    Dan nama yang diulang pelan.
    Dan malam yang panjang.
    ---
    Keesokan paginya, Raka bangun duluan.
    Dia liat Nara yang masih tidur — rambut berantakan, sedikit ngiler, selimut udah migras ke ujung kasur — dan dia mikir soal pelukis tua dari Jogja itu.
    Yang melukis gambar yang sama dua ratus tiga puluh tujuh kali.
    Dan baru ngerasa berhasil di yang terakhir.
    Raka ambil notesnya dari meja. Nulis satu kalimat.
    *Mungkin ada hal-hal yang baru kelihatan benerannya dari dekat.*
    Dia tutup notes-nya. Balik ke kasur. Tidur lagi.
    Di luar, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, langit cerah.
    ---
    *— Selesai —*
    LihatTutupKomentar